Diberdayakan oleh Blogger.

PEMELIHARAAN TANAMAN

ACARA IV
PEMELIHARAAN TANAMAN

I.  PENDAHULUAN


A.  Latar belakang
Setelah ditanam, tanaman memerlukan pemeliharaan karena selama pertumbuhan kadang kala mengalami hal-hal yang kurang menguntungkan seperti : gangguan hama, gulma, iklim yang buruk, kekurangan air dan sebagainya. Gangguan tersebut dapat menurunkan mutu hasil. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan untuk menekan serendah mungkin faktor-faktor penghambat tersebut.
Dalam hal ini, pemeliharaan tanaman sangatlah penting, karena merupakan salah satu faktor penentu dalam produktivitas tanaman.  Semakin baik cara pemeliharaan tanamannya, maka semakin tinggi pula produktivitas tanaman dan begitu juga sebaliknya.  Pemeliharaan tanaman disini dimaksudkan dengan semua tindakan manusia yang bertujuan untuk memberi kondisi lingkungan yang menguntungkan sehingga tanaman tetap tumbuh dengan baik dan mampu memberikan hasil atau produksi yang maksimal.  Oleh karena itu, pemeliharaan sangatlah penting dalam proses budidaya tanaman karena merupakan salah satu faktor utama.  Seringkali para petani melalaikan pemeliharaan teradap tanaman, sehingga mangalami kerugian.  Hal ini tentunya bukanlah yang diharapkan oleh mereka. Ada beberapa perlakuan tanaman  yang diberikan agar diperoleh hasil tanaman bermutu  baik. Iklim tidak dapat dikontrol. Yang masih bisa dipengaruhi adalah Ketersediaan air, penyerbukan dan jumlah buah yang dihasilkan ( Untung, 1996 ).

B.  Tujuan
Dapat mempelajari berbagai macam pemeliharaan tanaman pada berbagai macam tanaman.




II.  TINJAUAN PUSTAKA


Pemeliharaan merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya tanaman.  Pada prinsipnya pemeliharaan tanaman menyangkut tindakan :
Crop management
Soil management
Pest management
Water management
Tindakan-tindakan tersebut merupakan garis besar dari proses pemeliharaan tanaman.  Dengan tindakan-tindakan tersebut, maka hasil dari budidaya tanaman akan dapat meningkat.  Menurut sifat pemeliharaan tanaman dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
Pemeliharaan yang bersifat umum, antara lain : penyiangan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, irigasi dan drainase.
Pemeliharaan yang bersifat khusus : pemangkasan, pembumbunan, pemberian seresah atau mulching.
Pelaksanaan pemeliharaan tersebut disesuaikan dengan jenis tanaman dan umur atau stadia pertumbuhan.  Faktor keliling yang paling primer tersangkut dalam pemeliharaan tanaman yaitu : tanah yang memberi hara dan kelembaban disamping sebagai pendukung secara mekanik, energi penyinaran dalam bentuk panas cahaya, dan udara yang memberikan karbondioksida dan oksigen.  Tanah dan energi penyinaran bervariasi di permukaan bumi.  Walaupun komposisi udara di atas bumi hamper seragam di atas tanah, persentasi udara di dalam tanah bervariasi sangat besar.  Dalam pemeliharaan, faktor tanah sangat penting sehingga perlu pemeliharaan terhadap tanah agar tetap subur dan dalam kondisi yang baik untuk ditanami, yaitu tersedianya unsur hara dalam tanah.  Dalam mendukung kehidupan tanaman, terdapat fungsi tanah yang primer :
Memberikan unsur-unsur mineral, melayaninya baik sebagai medium pertukaran maupun sebagai tempat persediaan.
Memberikan air dan melayaninya sebagai reservoir.
Melayani tanaman sebagai tempat berpegang dan bertumpu untuk tegak.
Dalam pemeliharaan tanah, kelembaban tanah harus tetap terjaga.  Jumlah air tanah yang bermanfaat untuk tanaman mempunyai batas-batas tertentu.  Seperti pada kekurangan air, kelebihan air dapat merupakan kesukaran.  Air yang berlebihan itu sendiri tidak beracun, akan tetapi kekurangan udara pada tanah-tanah yang kegenanganlah yang menyebabkan kerusakan.  Ketersediaan air yang bagus bagi tanaman adalah yang sesuai dengan kapasitas lapang.

III.  ALAT DAN BAHAN

1.    Alat :
±    Cangkul
±    Sabit
±    Gembor
±    Lux meter
±    Pancong
Bahan :
±    Pupuk
±    Pestisida
±    Tanaman semusim (jagung dan kangkung)
±    Tanaman tahunan (durian)


IV.  PROSEDUR KERJA
a.Jagung
Pembumbunan dilakukan 2 kali seminggu
Penyiraman dilakukan 2 kjali sehari pagi dan sore
Pemangkasan/detaseling, pada saat usia tanaman 57HST
Penyiangan rumput dilakukan dua minggu sekali
Pemupukan;
±    pupuk dasar; urea, KCL, SP 36, dengan dosis 225 gram diberikan pada saat penanaman, jarak 5 cm dari lubang tanaman.
±    pupuk lanjutan; urea diberikan 14 HST.
b. kangkung

Penyiraman dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore
Penyiangan rumput dilakukan dua minggu sekali
Pemupukan
±    pupuk dasar; urea, SP 36 dengan dosis 90 gram diberikan pada saat penanaman, jarak 5 cm dari lubang tanaman.
±    pupuk lanjutan; urea diberikan 14 HST.


c. durian.
Pembumbunan dilakukan 2 kali seminggu
Penyiangan rumput dilakukan dua minggu sekali.
Pemupukan dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan pupuk urea, KCL, dan SP36.
Penggunaan pestisida


V.  HASIL PENGAMATAN


PERLAKUAN
a.Jagung
Pembumbunan dilakukan 2 kali seminggu
Penyiraman dilakukan 2 kjali sehari pagi dan sore
Pemangkasan/detaseling, pada saat usia tanaman 57HST
Penyiangan rumput dilakukan dua minggu sekali
Pemupukan;
±    pupuk dasar; urea, KCL, SP 36, dengan dosis 225 gram diberikan pada saat penanaman, jarak 5 cm dari lubang tanaman.
±    pupuk lanjutan; urea diberikan 14 HST.

b. kangkung

Penyiraman dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore
Penyiangan rumput dilakukan dua minggu sekali
Pemupukan
±    pupuk dasar; urea, SP 36 dengan dosis 90 gram diberikan pada saat penanaman, jarak 5 cm dari lubang tanaman.
±    pupuk lanjutan; urea diberikan 14 HST.
c. durian.
Pembumbunan dilakukan 2 kali seminggu
Penyiangan rumput dilakukan dua minggu sekali. Gulma yang terdapat pada tanaman;
a.    Imperata cylindrical,
b.    Euphorbia hirta
c.    Aneratum conyzoides
d.    Mikania micrantha
e.    Cyperus rotundus
Pemupukan dilakukan sebulan sekali dengan menggunakan pupuk urea, KCL, dan SP36.
Penggunaan pestisida


±    PENGUKURAN INTENSITAS CAHAYA

1.    Tanaman tahunan (durian)

a (30 cm dari batang tanaman ) 760 Klux
b (tepat dibawah tepi tajuk) 980 Klux
c (tempat terbuka setinggi 1 m dari permukaan tanah 1801 klux

pH tanah 6,2
Kelembaban 25%
Waktu pengamatan pukul 17.00 keadaan cuaca agak mendung.

Intensitas cahaya yang diterima = 
Intensitas cahaya yang diterima = 
                          =  1075,25 Klux
2.    Tanaman semusim (jagung)

a (30 cm dari batang tanaman ) 812Klux
b (tepat dibawah tepi tajuk) 783 Klux
c (tengah-tengah antara dua tanamnan) 786 klux
d (tempat terbuka setinggi 1 m dari permukaan tanah 1867 klux
pH tanah = 6,4
Kelembaban = 45 %
Waktu pengamatan pukul 17.05, umur tanaman 21 hst
Intensitas cahaya yang diterima = 
Intensitas cahaya yang diterima= 
                    =  1330,33 Klux
3.    Kangkung
(5 cm dari batang tanaman) 3160
(Perpotongan garis diagonal jarak tanam) 3800
(Tengah-tengah diantara dua tanaman) 2830
(Tempat terbuka 1m dari permukaan tanah 6700
pH tanah = 6,5
Kelembaban = 70 %
Waktu pengamatan pukul 17.05, umur tanaman 21 hst
Intensitas cahaya yang diterima = 

Intensitas cahaya yang diterima        

             =  4981,67


±    HASIL
Pada tanaman semusim yang dipelihara dengan intensif menunjukkan hasil yang lebih baik doibandingkan bila tidak diberi perawatan yang baik. Perawatan dan pemupukan yang dilakukan sangat berguna bagi kesuburan tanaman dan meningkatkan aktivitas visiologi tanaman, seperti fotosintesis.
Pada tanaman tahunan, perlakuan yang dilakukan belum terlihat hasilnya karena waktu pengamatan hanya sekitar 2 bulan, tanaman yang dipelihara juga sudah tua. Durian yang dipelihara belum dapat dilihat hasilnya, namun pemeloiharaan yang dilakukan akan memperbaiki aktivitas fisiologi pada tanaman, memperbaiki penyerapan unsure hara, perbaikan pada hama yang menggerek batang sangat diperlukan guna menjaga tetap tegarnya batang tanaman.










VI.  PEMBAHASAN

    Pemeliharaan tanaman merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kondisi lingkungan yang baik bagi tanaman. Langkah-langkah konkrit yang dilakukan dalam pemeliharaan tanaman adalah penyiraman, pupuk dasar, penyulaman, penyiangan, pembumbunan, pemberian pupuk, dan detasseling.
1. Penyiraman
Cara paling ekonomis dan praktis untuk memenuhi kebutuhan air pada budidaya baby corn dan kangkung adalah dengan mengandalkan curah hujan atau saluran irigasi yang ada. Pada saat ini musim hujan jadi pelaksanaan penyiraman masih mengandalkan dari adanya hujan, namun apabila tidak hujan dilakukan penyiraman yang intensif dengan bantuan alat gembor untuk menyiram. Dan kebutuhan air baby corn sebenarnya tidak terlalu banyak, terutama dibutuhkan pada saat pertumbuhan dan pembentukan tongkol. Apabila tanaman jagung kekurangan air pada masa pertumbuhan dan pembentukkan tongkol dapat menyebabkan tongkol menjadi kerdil dan akan tetap kerdil meskipun diberi perlakuan apapun. Sedangkan pada kangkung pengairan harus diperhatikan agar tanaman yang kangkung yang diharapkan bisa diperoleh, karena bila lahan kekurangan air maka kangkung tidak tumbuh secara optimal sehingga harus dilakukan penyiraman.
Penyiraman tanaman baby corn dilakukan sesaat setelah tanam untuk membantu perkecambahan benih. Selanjutnya, penyiraman dilakukan satu kali sehari selama minggu pertama. Penyiraman tidak perlu dilakukan pada saat turun hujan. Penyiraman dilakukan secukupnya karena jika terlalu banyak dapat mengakibatkan tanaman mati membusuk.
2. Pemberian pupuk
Tujuan dari pemupukan adalah membuat tanah menjadi subur dan mensuplai unsur-unsur hara yang kurang di dalam tanah yang dibutuhkan oleh tanaman.  Pemupukan yang teratur akan menghasilkan tanah yang subur.  Pemupukan juga harus sesuai dengan dosis, apabila terlalu banyak akan membuat tanah menjadi padat sehingga tanaman menjadi layu dan pada akhirnya dapat menimbulkan kematian.  Dalam praktikum yang dilakukan menggunakan pupuk Urea, KCl, dan SP36.  Unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman antara lain :
a.    Phosphor(P)
Unsur ini penting sekali sekali untuk pertumbuhan tanaman, mulai dari perakaran, batang sampai daun. Peranan unsur phosphor di dalam dunia pertanian amat penting sekali hingga phosphor kerap disebut sebagai The masterkey of agriculture (kunci utama dalam pertanian). Penggunaan unsur phosphor haruslah hati-hati karena senyawa unsur phosphor yang diberikan dalam bentuk senyawa DS atau super phosphat dan triple phosphat tidak mudah meresap dalam tanah. Peresapan unsur phosphor ini dapat berjalan dengan cepat, jika tanah cukup banyak mengandung humus.  Maka dari itu penggunaan phosphor ini sebaiknya dicampur dengan pupuk kandang, kemudian dimasukkan agak dalam ke tanah.
b.    Kapur (Ca)
Didalam tanah banyak sekali terdapat zat kapur.  Disamping itu zat kapur juga banyak terdapat di batang, ranting dan perakaran yang besar.  Semakin bertambah tua umur tanaman akan bertambah pula kadar zat kapurnya.  Kekurangan zat kapur ini menurut Reeddomhaas, akan nampak jelas dialami  tanaman yang masih muda.  Tanda-tanda yang nampak ialah daunnya menguning, terutama di bagian tulang daun sehingga daun mudah rontok, tunas-tunas baru banyak yang tumbuh tapi lekas mati.  Hal ini disebabkan kondisi perakaran jelek dan banyak yang membusuk.
c.    Zat mangaan (Mn)
Zat mangaan diperlukan untuk pembentukan hijau daun.  Gejala kekurangan zat ini terlihat pada daun yang mulai tua, warnanya hijau keputihan akan tetapi warna tulang daunnya tetap hijau
d.    Nitrogen (N)
Unsur ini punya pengaruh besar terhadap pertumbuhan batang dan daun, terlebih pada saat tanaman mulai berbunga dan berbuah. Pemberian unsur nitrogen tidak perlu menunggu sampai menjelang unsur tersebut diperlukan tanaman karena biasanya tanaman dapatn  menyimpan sendiri unsur nitrogen. Pemberian pupuk yang mengandung nitrogen harus memperhatikan faktor-faktor seperti umur tanaman, jenis-jenis tanah, banyaknya curah hujan, kandungan bahan organik.
e.    Magnesium (Mg)
Unsur Magnesium sangat diperlukan untuk pembentukan zat hijau daun.  Bagian tanaman yang banyak mengandung zat magnesium adalah biji.  Jika terjadi hujan terus menerus, zat magnesium ini dapat dengan mudah tercuci sebab zat ini mudah larut sehingga tanah menjadi asam.
f.    Kalium (K)
Peranan unsur kalium bagi tanaman tidak kalah penting dengan unsur yang lain.  Tanaman yang kekurangan zat kalium dapat berakibat menipisnya zat pati (hidrat arang), sehingga tanaman tidak tahan terhadap kekeringan.  Hal ini menunjukkan bahwa unsur kalium mempunyai hubungan erat dengan sistem penghisapan dan penyimpanan air di seluruh bagian tanaman.  Kekurangan unsur kalium pada tingkat yang berat menyebabkan warna daun nampak menguning hingga keabu-abuan dan di bagian dekat pokok tulang daun tampak kering.
g.    Zat kuningan (Cu)
Tanaman kekurangan zat kuningan akan mengalami perubahan pada beberapa bagian tanaman, seperti daun menjadi kasar dan buahnya hijau tua.  Ranting-ranting yang baru terbentuk akan melengkung seperti huruf S dan didalam kulit serta kayunya terdapat kantong-kantong berisi getah.  Sebaliknya tanaman yang kelebihan zat k----uningan akan mengakibatkan kulit pohon pecah-pecah dan mengeluarkan getah, daun berjatuhan dan akhirnya pohon mati.  Kelebihan zat kuningan dapat terjadi pada tanah-tanah yang masam sangat cerul dan banyak mengandung pasir.



h.    Belerang (S)
Zat belerang pada tanaman berpengaruh terhadap pembentukan zat protein.  Kekurangan zat ini mengakibatkan daun yang masih muda (pucuk) menguning dan menjadi kerdil, tunas muda lekas menguning.
i.    Zat Besi (Fe)
Zat besi juga punya peranan penting dalam pertumbuhan tanaman.  Zat ini sangat dibutuhkan untuk pembentukan zat hiaju daun dan proses asimilasi.  Hal ini nampak jelas pada daun yang masih muda yang berwarna kuning atau kehijauan seperti transparan karena kandungan zat hijau daun yang banyak, sedangkan tulang-tulang daunnya tampak hijau.  Tanaman yang kekurangan unsur zat besi pertumbuhannya akan menjadi kerdil dan akhirnya berhenti sama sekali.  Tanaman di tanah yang mengandung kapur umumnya sering mengalami kekurangan zat besi.  Tanah yang kekurangan zat besi disebut tanah alkalis.  Tanah yang kekurangan zat besi dapat diatasi dengan cara diberi pupuk ZA atau dengan sulfat besi.
j.    Zat seng (Zn)
Kekurangan zat seng hanya terjadi pada tanah bersifat asam atau banyak mengandung kapur.
k.    Zat borium (Bo)
Kekurangan zat borium dapat mengakibatkan pecahnya daun dan pembentukan callus pada pokok tulang daun dan tulang daun yang lain.
Dari berbagai macam zat yang telah diuraikan seperti tersebut di atas, ternyata unsur NPK sangat penting dan mutlak harus ada, supaya tanaman dapat berproduksi tinggi.  Selain itu penentuan dosis  yang tepat dan penentuan saat pemupukan yang tepat juga menentukan kesuksesan panen. Pupuk yang memberikan N, P dan K disebut pupuk lengkap.
Penempatan yang tepat dan saat pemberian merupakan faktor sangat penting dalam pemupukan.  Agar efektif, pupuk harus diberikan di tempat dan di saat tanaman memerlukannya.  Pupuk-pupuk yang gampang larut, dengan konsentrasi tinggi tidak dapat diberikan pada tanaman-tanaman yang sedang tumbuh, terutama bila masih muda, karena kerusakan akibat garam.  Pada tanaman tahunan atau pada tanaman setahun berumur panjang, ketersediaan hara lebih efisien diatur dengan pemberian berulang selama masa tanam.  Ini terutama harus dilakukan untuk pemupukan nitrogen, karena jumlah berlebihan dapat diboroskan akibat pencucian, dan saat pemberian-pemberian sangat kritikal dalam hal tanggapan tanaman.  Terdapat berbagai cara penempatan pupuk.  Pemberian secara broadcast, menunjukkan pada penebaran terserak dari bahan secara merata pada permukaan tanah.  Biasanya dilakukan sebelum tanaman ditanamkan.  Pemberian secara permukaan tersebut, mungkin tidak seefektif seperti cara top dressing yaitu penempatan pupuk langsung di atas tanaman tumbuh.  Bila tanaman peka terhadap kerusakan, pupuk dapat ditempatkan sepanjang sisi tanaman sebagai side dressing.  Pemberian secara side dressing sering dilaksanakan bersama penyiangan, jadi tercampur dengan tanah.
Penyulaman
    Penyulaman dilakukan bagi tanaman yang tidak tumbuh secara baik. Dimana penyulaman merupakan kegiatan penanaman kembali benih yang tidak tumbuh atau mengganti tanaman yang pertumbuhannya tidak sempurna (terhambat). Penyulaman dilakukan 17 hari setelah tanam. Hal ini sangat tepat karena waktu tersebut tanaman sudah mulai tumbuh secara merata. Dan bagi tanaman yang tidak tumbuh secara baik baru dilakukan penyulaman pada tanaman tersebut.
Penyiangan
Penyiangan sangat perlu dilakukan agar tanaman jagung dan kangkung tidak sampai terganggu tanaman liar (gulma). Gulma yang paling banyak terdapat pada lahan adalah rumput teki. Penyiangan dilakukan dengan cara  membersihkan/ mencabuti tanaman liar (gulma). Gulma yang dibiarkan tumbuh akan menjadi pesaing bagi tanamn jagung maupun kangkung. Oleh karena itu penyiangan harus dilakukan sesering mungkin.



Pembumbunan
Pembumbunan hanya dilakukan pada tanaman jagung saja sedangkan pada tanaman kangkung tidak dilakukan pembumbunan. Pembumbunan dilakukan dengan cara menimbun tanah disekeliling tanaman. Pada saat penyiangan, pembumbunan dilakukan dengan cara membenamkan potongan rumput pada lahan yang telah dibersihkan pada tanah yang diambil dari tengah ruangan di antara dua barisan tanaman.
Pembumbunan bertujuan untuk menutup bagian di sekitar perakaran agar batang tanaman menjadi kokoh dan tidak mudah rebah sekaligus untuk menggemburkan tanah di sekitar tanaman, selain itu tanaman bisa tumbuh dengan baik secara optimal tanpa takut roboh atau tertiup angin.
Pemberian Pupuk Lanjutan
Pemberian pupuk lanjutan ini bertujuan untuk meningkatkan besarnya tanaman kangkung dan jumlah  tongkol tanaman jagung. Pupuk susulan berupa Urea sebanyak 1 gr diberikan pada saat tanaman jagung dan kangkung pada umur 28 hari setelah tanam, karena pada saat tersebut tanaman perlu adanya unsur yang diperlukan bagi dirinya untuk tumbuh dari unsur di tanah yang sudah hilang atau terserap tanaman tersebut. Pemberian pupuk ini dilakukan setelah kegiatan pembumbunan.
Pembuangan bunga jantan (Detasseling)
Pemeliharaan yang lain adalah pembuangan bunga jantan (detasseling) yang dilakukan setelah bunga jantan keluar tetapi belum sempat mekar.  Di maksudkan untuk mencegah terjadinya penyerbukan bunga jantan yang dapat menjadikana persilangan, yang apabila ini terjadi maka baby corn yang diharapkan tidak akan terjadi. Perlakuan ini hanya dilakukan pada tanaman jagung.
Adapun cara pembuangan bunga jantan adalah dengan mencabut tangkainya. Untuk memudahkan pencabutan, maka batang sebelah atas digoyangkan perlahan-lahan agar pelepah daun agak melebar. 
Pada pengukuran intensitas cahaya yang dilakukan, tanaman jagung menerima intensitas cahaya sebesar 1330,33 klux, tanaman kangkung sebesar 4891,67 klux dan pada tanaman tahunan yaitu durian sebesar 1075,25 klux.  Penerimaan cahaya yang diterima oleh masing-masing tanaman tergolong normal untuk pertumbuhan tanaman.  Artinya dengan penerimaan intensitas cahaya sebesar tersebut tanaman dapat tumbuh dengan baik.  Cahaya sangat diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.  Tanaman yang ditanam tanpa cahaya tetapi diberi sumber pangan dari tempat-tempat cadangan misalnya biji dan umbi akan menjadi kuning dan mempunyai batang yang sangat panjang dan kurus.  Tanaman yang sama bila diberi cahaya akan membentuk warna hijau yang bertalian dengan pembentukan klorofil dan perangsangan fotosintesis serta mendapatkan strukturnya yang normal.  Wujud morfologi dari tanaman yang kekurangan cahaya disebut etiolasi dan dihubungkan dengan pengaruh cahaya kepada distribusi dan sintesis auksin.  Beberapa pigmen antosianin supaya dapat terbentuk juga memerlukan cahaya.  Cahaya mempengaruhi banyak respons lain dari tanaman, termasuk perkecambahan, pembentukan umbi dan bulb, pembungaan dan perbandingan kelamin pada bunga.  Cahaya mempengaruhi perkecambahan dan pembungaan dengan pengaruhnya terhadap fitokrom.  Fitokrom dipengaruhi cahaya merah pada spektrum cahaya.  Pancararan energi yang dibutuhkan oleh tanaman terbatas, hampir seluruhnya pada spektrum cahaya nampak.  Pertumbuhan optimum bila seluruh kisaran spektrum cahaya nampak diberikan.  Energi cahaya yang diuraikan dengan istilah partikel disebut foton, berbanding terbalik dengan panjang gelombang.  Kelembaban tanah yang diukur pada tanah yang ditanami tanaman jagung sebesar 45 % dan memiliki pH 6,4; pada tanaman kangkung sebesar 70 % dan memiliki pH sebesar 6,5.  Sedangkan pada tanaman durian sebesar tanahnya memiliki kelembaban sebesar 25 % dan pH sebesar 6,2.  Kelembaban pada tanah yang ditanami jagung dan durian tergolong kecil.  Hal ini dikarenakan tanahnya sebelum diolah keadaannya sangat kering dan tandus.  Sedangkan pada tanah yang ditanami tanaman kangkung kelembabannya tergolong tinggi, karena daerah sekitarnya banyak perairan sehingga tanahnya lembab atau basah.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan, dapat terlihat bahwa terdapat perbedaan yang cukup besar antara tanaman jagung dan kangkung yang diberi perlakuan pemeliharaan dengan yang tidak mendapat pemeliharaan.  Tanaman yang terpelihara tumbuh lebih bagus dibandingkan dengan yang tidak.  Pada tanaman durian, tidak terlihat perbedaan yang signifikan antara sebelum pemeliharaan dengan sesudah pemeliharaan.  Kemungkinan penyebabnya adalah karena tanaman durian tersebut sudah tua sehingga pemeliharaan yang dilakukan tidak terlihat hasilnya.


VII.  KESIMPULAN

Perlakuan yang perlu dilakukan dalam membuahkan baby corn adalah  pemupukan, penyiraman, penyulaman, penyiangan, pembumbunan, pemberian pupuk lanjutan, dan detasseling. Perlakuan harus tepat waktu sehingga baby corn yang diharapkan dapat terjadi.
Perlakuan pada tanaman kangkung adalah pemupukan, penyiraman, penyulaman, penyiangan, serta pemberian pupuk susulan.Ketepatan waktu dalam perlakuan menambah mutu dan hasil tanaman kangkung.
Dalam pemupukan usur NPK sangat penting dan mutlak harus ada, supaya tanaman dapat berproduksi tinggi.
Air dapat mempertahankan turgor yang sangat perlu dalam kerumitan transpirasi dan pertumbuhan tanaman.
Pembubunan dan pembuangan bunga jantan (detaeling) hanya dilakukan pada tanaman babycorn.
Cahaya mempengaruhi banyak respons lain dari tanaman, termasuk perkecambahan, pembentukan umbi dan bulb, pembungaan dan perbandingan kelamin pada bunga.
Tanaman yang terpelihara tumbuh lebih bagus dibandingkan dengan yang tidak.


DAFTAR PUSTAKA


AAK. 1984. Dasar- Dasar Bercocok Tanam. Jakarta : Kanisus

Effendi, Suryatana. 1985. Bercocok Tanam Jagung. Jakarta : C.V. Yasaguna

Harjadi, M.M. Sri setyati. 1984. Pengantar Agronomi. Jakarta : Gramedia

Nazaruddin. 1995. Budi Daya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sunarjono, Hendro. 1984. Kunci Bercocok Tanam Sayuran-Sayuran Penting di Indonesia. C.V. Sinar Baru, Bandung.

Tim Penulis PS. 1996. Sweet Corn – Baby Corn. Jakarta : Penebar Swadaya


Anda baru saja membaca artikel yang berkategori dengan judul PEMELIHARAAN TANAMAN. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://april3an.blogspot.com/2012/05/pemeliharaan-tanaman.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: Guntursapta Perkasa - Senin, 07 Mei 2012

1 Komentar untuk "PEMELIHARAAN TANAMAN"